Apa Iya, Wanita yang Baru Menikah Hidupnya Tak Bahagia?

0
39
Baru Menikah

Menikah dengan orang yang dicintai adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Apa Iya, Wanita yang Baru Menikah Hidupnya Tak Bahagia?

Menikah dengan orang yang dicintai adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Namun benarkah kehidupan pernikahan dengan pasangan yang dicintai pasti selalu berjalan bahagia?

Melalui Post Secret, sebuah proyek mengumpulkan rahasia pribadi dalam kartu pos, dikejutkan oleh sebuah surat. “Sejak kami menikah dan membeli rumah, pacar saya dan saya tidak tertawa banyak lagi. ”

Sebenarnya, ini bukan hanya masalah pasangan itu saja, tapi banyak pasangan di dunia. Lisa Wade, seorang profesor di Accidental College sekaligus penulis buku American Hookup mengatakan bahwa terungkapnya rahasia pribadi ini menjadi bagian dari apa yang disebut “paradoks dari penurunan kebahagiaan perempuan.

Dilansir dari Business Insider, perempuan memiliki lebih banyak hak dan kesempatan dalam pernikahan di beberapa dekade terakhir. Namun mereka ternyata kurang gembira dari sebelumnya. Hal ini diukur dari relasi mereka baik secara absolut maupun relatif dengan laki-laki.

Perkawinan heteroseksual adalah lembaga yang tidak setara. Wanita rata-rata melakukan lebih banyak pekerjaan sosial dan bernilai rendah dalam rumah tangga, dibandingkan suaminya. Mereka bekerja lebih banyak setiap harinya, dan mereka menyadari sepenuhnya ketimpangan ini.

Ada kecenderungan pemikiran bahwa wanita lebih cenderung untuk mengorbankan kesenangan dan tujuan karir demi menikah. Pernikahan menyebabkan wanita tersubordinasi, dan mereka cenderung mengorbankan diri dan karier mereka demi hubungannya dengan anak-anak dan suami.

Tak heran apabila perempuan yang telah menikah kurang bahagia dibandingkan wanita lajang. Mereka juga kurang bahagia dibandingkan suami mereka.

Dibandingkan laki-laki, wanita juga kurang bersemangat untuk menikah. Yang lebih cenderung untuk mengajukan cerai pun kebanyakan kaum wanita. Dan ketika mereka bercerai, mereka bahagia karena tak menyatu dengan pasangannya lagi. Mereka pun lebih suka untuk tidak menikah lagi dibandingkan kaum pria.

Hal ini tentu bertentangan dengan beragam propaganda yang menggambarkan kegembiraan kaum wanita. Berbagai buku, komedi situasi, reality show, dan komedi romantis menggambarkan upaya dramatis wanita lajang untuk mendapatkan pasangan hidup. Belum lagi mainan bertema pernikahan, tatkala majalah pernikahan di mana-mana hanya ditujukan untuk perempuan.

Namun jangan jadikan ini sebagai patokan bagi setiap pernikahan. Kehidupan pernikahan yang bahagia bukan cuma mimpi. Perempuan juga bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia dalam pernikahannya. Sudah ada banyak contoh yang membuktikan bahwa kehidupan pernikahan yang bahagia adalah nyata, semuanya hanya butuh pengertian, kesabaran, dan kepercayaan antar pasangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here